Jati Diri

Banyak sekali para ahli berpendapat atau mendeskripisikan tentang hal apa yang dimaksudkan dengan JATI DIRI,misalkan:

Erikson (1968)

menjelaskan identitas sebagai perasaan subjektif tentang diri yang konsisten dan berkembang dari waktu ke waktu. Dalam berbagai tempat dan berbagai situasi sosial, seseorang masih memiliki perasaan menjadi orang yang sama. Sehingga, orang lain yang menyadari kontinuitas karakter individu tersebut dapat merespon dengan tepat. Sehingga, identitas bagi individu dan orang lain mampu memastikan perasaan subjektif tersebut (Kroger, 1997).

Menurut Waterman (1984),

identitas berarti memiliki gambaran diri yang jelas meliputi sejumlah tujuan yang ingin dicapai, nilai, dan kepercayaan yang dipilih oleh individu tersebut. Komitmen-komitmen ini meningkat sepanjang waktu dan telah dibuat karena tujuan, nilai dan kepercayaan yang ingin dicapai dinilai penting untuk memberikan arah, tujuan dan makna pada hidup (LeFrancois, 1993).

Marcia (1993)

mengatakan bahwa identitas diri merupakan komponen penting yang menunjukkan identitas personal individu. Semakin baik struktur pemahaman diri seseorang berkembang, semakin sadar individu akan keunikan dan kemiripan dengan orang lain, serta semakin sadar akan kekuatan dan kelemahan individu dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya, jika kurang berkembang maka individu semakin tergantung pada sumber-sumber eksternal untuk evaluasi diri.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
identitas diri adalah perkembangan pemahaman diri seseorang yang membuat
individu semakin sadar akan kemiripan dan keunikan dari orang lain dan akan
memberikan arah, tujuan, dan makna pada hidup seseorang.

Pentingkah Jati Diri dalam kehidupan manusia?

Jati diri dalam setiap orang biasanya berupa prinsip hidup yang membuat seseorang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan tempat dia berada. Setiap manusia dalam menghadapi kehidupan di dunia ini harus memiliki jati diri agar memiliki symbol dari seseorang tersebut itu dan membedakannya dirinya dengan orang lain. Dalam jati diri kita harus memiliki prinsip hidup dan arah hidup. Prinsip hidup itu adalah merupakan sebuah draft atau konsep ari kehidupan yang akan kita jalani. Konsep kehidupan yang tentu sesuai dengan agama dan norma-norma yang berlaku. Jangan sampai konsep yang kita miliki melanggar yang sudah di atur dalam agama dan norma-norma dalam masyarakat dan hukum.

Adapun Kriteria untuk membentuk jati diri   :

  1. Mempunyai keyakinan

Yakin pada diri sendiri, pada kemampuan yang dimiliki. Dan yakin adanya allah swt yang merupakan tuhan yang maha esa yang menentukan takdir atau nasib dari setiap manusia.110727-who-am-i-paper-bag-on-head

  1. Mempunyai pikiran

Berpikir untuk selalu belajar dan belajar dalam setiap hal untuk menjadi pintar dalam setiap hal khusunya dalam bidangnya karena sesungguhnya kebodohan itu dekat sekali dengan kemiskinan.

  1. Mempunayi kredibilitas waktu

Maksudnya adalah kemampuan menata dirinya sendiri dapat memenagt atau mengatur waktu dan berkonsekuen dalam menjalani waktu yang sudah diatur.

  1. Mempunyai kredibilitas dalam sosial masyarakat yang baik

Kredibilitas yang diterima pada masyarakat dimanapun dia berada. Dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dimanapun dia berada karena sebaik- baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain

Karena itu penting sekali seseorang memiliki jati dirinya. Sesungguhnya jati diri itu bermanfaat dalam mengantarkan seorang dalam menuju kesuksesan baik di dunia ataupun di akhirat nanti. Dan seorang tidak akan mudah terbawa arus-arus yang menjerumuskannya pada kegagalan.

Belajar tentang IMAN KATHOLIK

CatholicFaithFacts1

IMAN MENURUT AJARAN GEREJA KATOLIK

Apakah Iman itu Sebenarnya Menurut Gereja Katolik
• Gereja mengajarkan bahwa iman itu adalah pemberian atau karunia yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita melalui Roh Kudus.
• Ia merupakan rahmat yang diberikan oleh Allah kepada kita secara percuma.
 

 

KGK no: 37-38
Menyatakan bahawa untuk mengetahui Allah dengan akal saja manusia mengalami berbagai kesukaran.
Sesungguhnya, dengan dirinya sendiri sahaja ia tidak mampu untuk masuk ke dalam keakraban dengan misteri ilahi.
Maka ia perlu diterangi dengan wahyu Allah, bukan saja mengenai perkara-perkara yang melampaui batas kefahamannya, tetapi juga perkara-perkara kebenaran religius dan moral.

KGK No: 50-53, 68-69
• Mengatakan bahwa dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan menyatakan diri-Nya.
• Dengan perbuatan dan perkataan, Dia menyatakan diri-Nya dan rencana kebaikan penuh kasih-Nya yang ditetapkannya sejak semula di dalam Kristus.
• Menurut rencana ini, semua orang oleh kuasa Roh Kudus berkongsi di dalam kehidupan ilahi sebagai “anak-anak” angkat di dalam Putera Allah yang tunggal.

KGK No: 54-58, 70-71
Menjelaskan, sejak permulaan, Allah telah menyatakan diri-Nya kepada manusia pertama, Adam dan Hawa, kemudian mengajak mereka membangun hubungan akrab dengan-Nya.

Selepas kejatuhan mereka dalam dosa, Dia tidak menamatkan wahyu-Nya kepada mereka tetapi menjanjikan keselamatan kepada seluruh keturunan mereka.
Selepas air bah, Dia mengadakan perjanjian dengan Nuh, satu perjanjian antara Dia dengan seluruh makhluk hidup.

KGK No: 65-66, 73
• Tahap penuh dan muktamad wahyu Allah disempurnakan di dalam Firman-Nya yang menjadi manusia, yakni Yesus Kristus, perantara yang menggenapi seluruh Wahyu.
• Dia, sebagai Putera Tunggal Allah yang menjadi manusia, adalah Firman Bapa yang sempurna dan muktamad.
• Wahyu kini telah lengkap, walaupun iman Gereja harus secara beransur-ansur memahami maknanya yang sepenuh sepanjang peredaran abad.

KGK No: 74
Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Timotius 2:4), iaitu, Yesus Kristus.
Atas sebab ini, Kristus harus diwartakan kepada semua menurut perintah-Nya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19).
Dan ini dilaksanakan melalui Tradisi Apostolik.

KGK. 84, 91, 94, 99
Para Rasul mempercayakan inti iman kepada seluruh Gereja. Syukur kerana pengertian iman umat Allah yang adikudrati (supernatural), dibantu oleh Roh Kudus dan dibimbing oleh Magisterium Gereja; Gereja tidak putus-putus untuk menerima, menyelami secara mendalam dan menghidupinya secara penuh dari anugerah wahyu ilahi.

KGK. 131-133, 141-142
• Kitab Suci memberi sokongan dan tenaga kepada kehidupan Gereja. Bagi anak-anak Gereja, ia adalah sebuah pengesahan iman, makanan bagi jiwa dan mata air bagi kehidupan rohani.
• Kitab Suci adalah jiwa bagi teologi dan pewartaan pastoral. Pemazmur berkata bahawa ia adalah “Pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105).
• Oleh itu, Gereja mengesyorkan agar semua sentiasa membaca Kitab Suci kerana “kejahilan terhadap Kitab Suci bermakna juga kejahilan terhadap Kristus” (St. Jerome).

Sifat-Sifat Iman Kristian

KGK No: 153-165, 179-180, 183-184
• Iman adalah sifat baik adikudrati (supernatural) yang mana perlu bagi keselamatan.
• Ia adalah kurnia percuma dari Allah dan dapat dicapai bagi mereka yang secara rendah hati mencarinya.
• Tindakan iman adalah satu tindakan manusia, iaitu, suatu tindakan dari pemikiran seorang peribadi – didorong oleh keinginan yang digerakkan oleh Allah – yang secara bebas bersetuju dengan kebenaran ilahi.

• Iman adalah juga nyata kerana ia berdasarkan Firman Allah: ia bekerja “oleh kasih” (Galatia 5:6); dan ia tumbuh secara berterusan melalui pendengaran akan Firman Allah serta melalui doa.
• Ia juga, adalah mencicipi sukacita syurgawi sekarang ini.
KGK No: 166-169, 181
• Iman merupakan tindakan peribadi kerana ia adalah jawapan bebas manusia kepada Allah yang menyatakan diri-Nya. Tetapi dalam masa yang sama ia adalah suatu tindakan kegerejaan yang mengungkapkan dirinya sendiri di dalam pewartaan, “Kami percaya”.
• Sebenarnya Gerejalah yang percaya: dan dengan demikian oleh rahmat Roh Kudus mendahului, membentuk dan menyuburkan iman setiap umat Kristian. Atas sebab inilah Gereja adalah Ibu dan Guru.
“Tiada seorang dapat memiliki Allah sebagai Bapa jika tidak memiliki Gereja sebagai Ibu.”
(Santo Siprian)
KGK No: 170-171
Rumusan iman (Syahadat/Aku Percaya) adalah penting kerana ia membuatkan seseorang mengungkapkan, menyerapkan, merayakan dan mengongsikan dengan yang lain kebenaran iman melalui satu bahasa umum.
KGK No: 172-175, 182
• Gereja, walaupun terdiri dari peribadi-peribadi yang mempunyai berbagai-bagai bahasa, budaya dan tatacara, bagaimanapun mengakui dengan satu suara akan iman yang telah diterima dari Tuhan yang satu dan dilanjutkan oleh Tradisi Apostolik.
• Ia mengakui satu Allah saja, Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan mengarah kepada satu jalan keselamatan.
• Oleh itu, kita percaya dengan sehati dan sejiwa semua yang terkandung di dalam Firman Allah, yang diperturunkan atau dituliskan, dan yang mana diakui oleh Gereja sebagai wahyukan oleh ilahi.
Iman Merupakan Pengalaman Hubungan Dengan Allah

Pengalaman Akan Kehadiran Allah
• Iman itu lebih daripada mengetahui dan percaya akan kewujudan Allah.
• Ia merupakan suatu pengalaman yang terindah akan kehadiran Allah di dalam kehidupan seseorang.
• Mengalami Allah sebagai yang Mahakuasa, Bapa yang maha pengasih, pengampun, penyelamat, pelindung, penolong, penghibur, kekuatan dan bahawa Dia adalah segala-galanya bagi orang yang sungguh-sungguh beriman.

Penyerahan Hidup Kepada Allah

• Melalui pengalaman iman ini seseorang itu menyerahkan seluruh hidupnya atau dirinya kepada Allah (ruj. Lk 1:38 iman Bonda Maria).
• Iman itu tidak dapat diajarkan kepada sesiapa, ia hanya dapat dikongsikan dan disaksikan kepada orang lain.

• Iman bermula dari hati ke roh seseorang melalui mendengar firman Tuhan.

• Bila iman itu sudah menjiwai seseorang walau apa pun berlaku sehingga nyawanya tergadai sekalipun kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah tidak akan tergugat sama sekali (ruj. Mat 7:24-27).

Iman Itu Hidup dan Dinamik
Faith-Card1

Iman Adalah Suatu Proses

Perkembangan iman merupakan suatu proses pertaubatan setiap hari dengan memusatkan kehidupan harian pada Kristus atau membangun hubungan intim dengan-Nya.

Menerima Yesus sebagai Tuhan atas segala-galanya dalam kehidupan kita. Tuhan atas segala yang kita lakukan, fikirkan, kelemahan, kekuatan, kegembiraan dan kesedihan (ruj. Gal 2:20).

Iman Adalah Hubungan Peribadi Dengan Tuhan
• Iman itu adalah hubungan dengan Allah secara personal dan dengan ciptaan-Nya, iaitu dengan sesama manusia dan alam semulajadi.

• Iman itu adalah respond atau sahutan kepada kehendak Allah untuk melayani-Nya dan sesama kita dalam cinta kasih, pengharapan dan sukacita (Mk 12:30-31).

• Iman adalah melakukan pelayanan untuk kebaikan semua orang seperti yang dikata oleh Yokobus, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati” (Yok 2:17).

• Tanpa kasih iman tidak akan bertumbuh, ia akan menjadi layu dan tidak berguna (1 Kor 13:1-13).

Iman Bukanlah Perasaan
• Iman itu bukanlah perasaan tetapi membuka diri sepenuhnya secara radikal kepada kehendak Allah dalam pesanan Injil.

• Iman itu adalah seperti: benih yang tumbuh membesar dan menghasilkan buah, terang yang menerangi kegelapan dan garam yang memberi rasa dan erti pada kehidupan manusia.

• Tanpa iman Roh Kudus tidak dapat berkarya di dalam diri kita. Kehidupan Kristian akan menjadi kosong dan tidak memberi erti dalam kehidupan.

• Maka adalah amat penting untuk selalu berdoa meminta karunia iman dari Allah dan memohon pertolongan Roh Kudus untuk meneguh dan mengembangkan iman kita.

7 Peringkat Iman

1. Iman Kanak-Kanak

Apabila seorang bayi atau anak kecil dibaptis, dosa asal dan kuasa kejahatan dihapuskan dan dia menerima Roh Kudus dan kehidupan baru. Tetapi anak itu tidak menyedarinya. Maka dia tidak dapat mempraktik kehidupan barunya dan tidak aktif dalam iman. Masih ramai orang Kristian dewasa yang terperangkap dalam peringkat iman ini.
2. Iman Ikut-Ikutan
• Iman yang berdasarkan pada tanda-tanda kelihatan.
• Seseorang itu menjadi benar-benar percaya kerana dia telah melihat keajaiban kuasa Tuhan seperti kesembuhan atau mukjizat.
• Jika perkara seperti ini tidak lagi berlaku, maka imannya pun menjadi layu.
• Iman seperti ini belum begitu mendalam, ia masih lagi berdasarkan perasaan (ruj. Yoh 20:29).
3. Iman Berdasarkan pada Komuniti
• Ramai orang Kristian yang imannya sangat bergantung pada komuniti Kristian di mana dia tinggal. Tanpa komunitinya dia tidak dapat berbuat apa-apa.
• Komitmennya terhadap Allah adalah melalui komuniti sahaja dan bukannya secara personal.
• Ini selalu berlaku apabila seseorang yang sangat aktif di dalam pelayanan bagi Gereja kerana dia adalah ahli komuniti yang aktif. Tetapi apabila dia dipinda atau berpinda ke suatu tempat di mana dia jauh terpisah dari komunitinya maka dia juga akan menjauhkan diri dari pelayanan atau dari Gereja.
• Iman seperti ini tidak personal dan mendalam hanya pada kulit saja.
4. Iman yang Mendalam dan Personal
• Seseorang yang hidupnya berpusat pada Kristus dan dia mempunyai hubungan yang intim dan personal dengan Yesus.
• Dia mengutamakan Allah dalam segala hal dalam hidupnya. Tuhan adalah segala-galanya bagi dirinya dan tanpa Tuhan dia tidak dapat melakukan apa-apa (Yoh 15:5).
• Semuanya ini diungkapkan-nya melalui kesetiaan berdoa, menghayati Sabda Allah, merayakan sakramen-sakramen dan mengamalkan cinta kasih di dalam pelayanan pada Allah, Gereja dan sesamanya.
5. Iman Para Murid
• Komitmen yang total kepada Tuhan dalam segi doa dan pelayanan.
• Menyerahkan seluruh kehidupan kepada Tuhan dan turut serta dalam pelayanan dan misi Kristus serta meneladani jejak langkah Tuhan (Mk 8:34-35).
• Sikap sebagai murid adalah selalu belajar dari Tuhan.
• Mengamalkan sikap bersatu dengan Kristus, melayani bersama Kristus dan melayani seperti Kristus.
6. Iman Para Rasul
Guru keimanan dan penginjil.
Seluruh kehidupan mereka adalah mewartakan khabar gembira atau Injil, memperkenalkan Allah kepada orang yang belum mengenali-Nya dan membawah orang lain mendekati Tuhan.
Menjadi Kristus untuk orang lain.
7. Iman Para Matir
Para matir adalah saksi iman, mereka mati demi mempertahankan dan memperjuangkan iman Kristian.
Iman yang menjiwai seluruh kehidupan mereka. Di mana mereka bersedia untuk menerima apa sahaja bentuk penganiayaan, penderitaan dan rela mati untuk Kristus dan sesama.
Penutup
• Iman memberi kita kuasa untuk melakukan sesuatu yang mustahil. Tuhan Yesus sendiri telah memberi kita keyakinan akan kekuasaan iman itu (ruj. Yoh 14:12-14).
• Tetapi persoalannya, apakah kita sungguh-sungguh percaya dan yakin akan jaminan Tuhan Yesus ini?
• Kadangkala apabila kita dicabar mengenai iman kita, kita malu menerima cabaran itu.
• Apabila kita berdoa kita kurang yakin bahawa Allah akan mendengar doa kita itu lalu kita tidak membuat apa-apa terhadap apa yang kita doakan itu.
Iman itu merupakan proses yang lama. Ia adalah suatu perjalanan yang jauh sehinggalah kita bertemu dan bersemuka dengan Allah.
Perjalanan iman adalah seperti pelayaran di lautan yang luas menuju ke destinasi yang paling indah sekali yang tidak ada bandingnya.  Tetapi untuk sampai ke sana kita perlu bergelut menghadapi pukulan ombak dan badai. Kita tahu ombak dan badai tidak berkekalan, ia datang dan pergi.

Begitu juga dalam perjalanan iman kita di dunia ini, kita harus berani menghadapi segala cabaran dan dugaan dalam iman dengan penuh keyakinan sebab Tuhan sentiasa menyertai kita (Mat 28:20b; Rom 8:31-39 ).