RSS

Bagaimana Menumbuhkan Sikap Empati Anak Usia Dini

02 Des

Anak-anak usia 2-3 tahun masih egosentris, namun bukan berarti mereka tidak bisa berempati.

Coba lakukan 10 cara berikut untuk mengembangkan empati anak Anda:

Bermain Bersama

Di usia 2-3 tahun, anak mulai berminat pada permainan simbolik dan khayalan. Kembangkan imajinasi sedemikian rupa saat bermain bersamanya. Misalnya, Anda bisa berpura-pura sakit dan biarkan si kecil mengurus Anda.

Membantu Tugas Rumahtangga

Anak umur 2 tahun bisa mulai membantu mengerjakan pekerjaan ringan yang bermanfaat di rumah. Bila Anda memujinya, dengan senang hati ia melakukan untuk Anda.

Sikap mau membantu dengan sukarela berkembang dengan sendirinya jika ia terbiasa ringan tangan sedari kecil. Ini adalah awal yang baik baginya untuk memahami pekerjaan orang lain.

Membacakan Cerita

Jadikanlah mendongeng sebagai aktivitas harian Anda bersama si kecil. Membacakan cerita sambil mengobrol hal-hal penting yang terjadi hari itu merupakan kesempatan untuk mengajarinya berempati lewat tokoh cerita.

Belajar Berteman

Bertengkar itu biasa bagi anak balita. Tugas Anda memantau situasi dengan bijak. Kata maupun tindakan mereka memang sangat mementingkan diri sendiri. Inilah saat tepat bagi Anda, dengan lembut dan positif, membagikan gagasan agar mereka mau tulus berbagi dan menikmati sesuatu bersama orang lain.

Menonton TV atau DVD

Program TV atau film kartun yang sudah Anda pilih hati-hati dapat merangsang imajinasi si kecil akan nilai-nilai empati. Pendampingan Anda sekaligus dapat menelurkan aktivitas yang membangun.

Bagaimanapun, dampak negatif TV tidak boleh Anda abaikan.

Berbelanja Hadiah

Ajaklah anak berbelanja dan ikut memilih kado untuk kakak atau temannya. Atau, tolonglah ia membuat sendiri pekerjaan tangan sederhana sebagai hadiah. Katakan bahwa karyanya merupakan suatu pemberian yang tak ternilai harganya untuk diberikan kepada orang lain.

Membicarakan tentang bagaimana kasih sayang Anda terhadap keluarga atau teman akan menumbuhkan pula rasa cinta dan perhatiannya yang tulus pada mereka.

Menjenguk Orang Sakit

Jika penyakit teman atau famili tidak parah atau menular, boleh saja Anda mengajak si kecil ikut menjenguk.

Membawa buah tangan bagi nenek yang sakit, atau memberikan hiburan di saat teman si kecil sakit atau menangis sedih, melibatkan rasa turut prihatin di dalam dadanya. Kelak, ia pun peka atas penderitaan orang yang sedang sakit.

Dekat dengan Tuhan

Membiasakan si kecil dengan aktivitas keagamaan menumbuhkan kepercayaannya pada Sang Pencipta. Iman yang dibina sedari kecil tak pelak lagi akan memberinya landasan untuk saling mengasihi sesama. Inilah tiang utama yang tak bisa ditawar agar si kecil mampu menumbuhkan kepeduliaannya terhadap orang lain.

Memelihara Hewan atau Tanaman

Memiliki seekor hewan peliharaan berarti harus mampu memberikan rasa nyaman pada anak.

Bagaimana si kecil belajar bertanggung jawab memberi makan dan minum hewan peliharaannya adalah cara untuk belajar mengelola empatinya kelak.

Termasuk hobinya bercocok tanam. Berbicara dengan tanaman, memberinya pupuk dan tak lupa rutin menyiraminya, adalah langkah pembelajaran empati yang bisa diterapkan kepada si kecil.

Tahu Berterimakasih

Tampaknya sepele tapi ajaib sekali makna kata ‘maaf’, ‘terimakasih’ dan ‘tolong’. Membiasakan anak sedari dini mengucapkannya akan membuatnya tumbuh menjadi anak yang kemampuannya memahami orang lain di atas rata-rata. Apalagi jika ditambah dengan kemampuannya mendengarkan. Tentu ia akan menjadi pribadi yang ramah, hangat dan dihornati orang lain.

Jadilah Panutan Anak

Tak peduli si kecil sudah mengerti sepenuhnya atau tidak, namun Anda bisa membagikan berita koran atau TV padanya. Cerita duka anak yang busung lapar, kehilangan orangtua dan rumah saat gempa atau banjir hebat melanda, atau banyaknya teman-teman di negeri ini yang tak dapat sekolah karena tak punya biaya, akan menggugah empatinya. Apalagi jika Anda mengajaknya berbagi mainan atau pakaiannya pada para korban. Tentu, Anda sendiri harus jadi panutan utama baginya.

Anak usia 2-3 tahun mulai mewujudkan tingkah laku dari apa yang mereka amati pada anggota keluarga yang lain. Ia menyimpan ingatan tentang tindakan dan peristiwa yang dilihat dalam benaknya dan mengeluarkannya kembali untuk ditiru di kemudian hari.  Tugas Anda yang utama adalah menjadi model perilaku terbaik bagi si kecil.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 2, 2010 in Pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: